Thursday, January 19, 2012
Sunday, January 8, 2012
Menumbuhkan Perilaku Menghargai Pada Anak-anak
oleh Irwan Nuryana Kurniawan.
Diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda,”Jauhkanlah dirimu dari wanita-wanita orang lain, niscaya wanita-wanitamu akan menjaga kesuciannya. Dan berbaktilah kepada orangtuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu”.
Sebagai orangtua dan pendidik, kita dapat melakukan banyak hal untuk mencontohkan dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menunjukkan penghargaan kepada orang lain, baik kepada yang lebih tua, kepada yang lebih muda, maupun kepada yang sebaya.
Diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda,”Jauhkanlah dirimu dari wanita-wanita orang lain, niscaya wanita-wanitamu akan menjaga kesuciannya. Dan berbaktilah kepada orangtuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu”.
Hadis ini menekankan apabila kita menghendaki anak-anak berbakti kepada kita, hendaknya kita menjadi contoh pertama dan utama bagaimana berbakti kepada orangtua kita. Bahwa bakti kita kepada orangtua mempunyai pengaruh besar terhadap bakti anak kepada kita.
Perilaku menghargai dipelajari lewat menyaksikan perilaku-perilaku orang lain. Menghargai dipelajari lewat contoh setiap menit setiap harinya. Untuk belajar menghargai, anak-anak pertama kali harus dihargai. Jika kita menginginkan anak-anak kita memperlihatkan penghormatan kepada orangtua, penting untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita juga menghormati dan bersikap positif terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai orangtua dan pendidik, kita dapat melakukan banyak hal untuk mencontohkan dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menunjukkan penghargaan kepada orang lain, baik kepada yang lebih tua, kepada yang lebih muda, maupun kepada yang sebaya.
Meminta maaf
Meminta maaf kepada orang lain, terutama kepada orangtua, ketika melakukan kesalahan merupakan perilaku terpuji seorang anak kepada orangtua. Perilaku terpuji ini akan lebih mudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam diri seorang anak ketika kita sebagai orangtua melakukan hal yang sama. ”Aulia sayang, ayah minta maaf ya. Maksud ayah meminta kakak melakukan seperti itu agar kakak terbiasa mengerjakan sesuatu dengan tahapan yang benar. Membiasakan berpikir dan bekerja secara runtut, sehingga kesalahan dalam menjawab soal bisa dihindari. Doa’akan ayah ya sayang ayah bisa menyampaikan dengan lebih baik.”
Meminta maaf kepada anak-anak ketika kita keliru menangani sebuah situasi atau menyakiti perasaan anak-anak kita. Mengatakan kepada anak-anak bahwa kita menyesal. Meminta maaf secara khusus dan tulus menunjukkan kepada anak-anak bahwa kita menghargai perasaan-perasaan mereka dan merasa menyesal atas perilaku kita. Ini merupakan sebuah cara yang baik untuk memperlihatkan bahwa melakukan dan mengakui kesalahan itu sesuatu yang baik. Ini akan membawa kita lebih dekat dengan kasih sayang, memahami, dan percaya.
Mengucapkan terima kasih
Mengucapkan terima kasih kepada orang lain, apalagi kepada orangtua, untuk semua kebaikan yang kita terima setiap waktu merupakan contoh lain dari berbakti kepada orangtua. ” Terima kasih Hasany dan Rasikh sayang, sudah bersemangat bantuin ibu dan kakak menjemur pakaian.”
Anak-anak akan terbiasa mengucapkan terima kasih kepada orangtua ketika mereka menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana orangtua mereka mengucapkan terima kasih kepada pasangannya, anak-anaknya, maupun orang lain ketika mereka menerima kebaikan atau pekerjaan dilakukan dan diselesaikan dengan sungguh-sungguh.
Membiasakan mengucapkan terima kasih menunjukkan bahwa kita menyadari kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan orang lain. Bahwa kita perduli terhadap orang lain.
Bersikap sopan dan hormat ketika meminta seseorang melakukan sesuatu .
Meminta sesuatu kepada orangtua dengan sikap sopan dan hormat merupakan contoh lain berbakti kepada orangtua. Perilaku berbakti tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diri anak-anak kita ketika kita mencontohkan kebiasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. ” Ibu lihat mbak Lia lagi santai, ya. Ibu minta tolong kakak Lia beliin beras di warung Pak Saijo, ya. Ibu baru tahu ternyata persediaan beras kita sudah habis. Terima kasih sayang.”
Anak-anak yang dihormati oleh teman-teman mereka adalah anak-anak yang mengkomunikasikan secara jelas bahwa mereka menuntut penghormatan kepada diri mereka sendiri. Ketika dihadapkan sebuah gangguan, seorang anak yang asertif dapat secara tegas menyatakan keyakinannya tanpa menggunakan ancaman, panggilan jelek atau bahasa yang menjatuhkan lainnya.
Mendorong anak-anak untuk menghargai diri mereka sendiri dan orang lain insyaallah akan menghilangkan ketidakadilan, kebencian, dan kekerasan. Mari penghargaan ini perlu kita mulai dari rumah kita.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin .
Prumpung, 29 Desember 2011.
Jebakan " Tidak Pernah" dan "Selalu"...?
oleh Irwan Nuryana Kurniawan.
"Alkisah. Ibu guru TK merasa mempunyai persoalan pada salah satu anak didik di TK tempat beliau mengajar. Setiap kali melakukan tugas, dia tidak pernah dapat diselesaikan. Dia selalu tertiggal dengan teman-temannya dan bahkan tidak mampu mengerjakannya dengan baik sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan untuk anak seusia dia (5 th). Dia gampang sekali berkata “Capek Bu …”, “Kesel Bu …”, “Aku kerjakan di rumah saja Bu …”, sebagai alasan."
"Alkisah. Ibu guru TK merasa mempunyai persoalan pada salah satu anak didik di TK tempat beliau mengajar. Setiap kali melakukan tugas, dia tidak pernah dapat diselesaikan. Dia selalu tertiggal dengan teman-temannya dan bahkan tidak mampu mengerjakannya dengan baik sesuatu yang seharusnya bisa dilakukan untuk anak seusia dia (5 th). Dia gampang sekali berkata “Capek Bu …”, “Kesel Bu …”, “Aku kerjakan di rumah saja Bu …”, sebagai alasan."
Ada beberapa hal yang perlu kita jawab lebih dahulu. Pertama, benarkah anak tersebut TIDAK PERNAH menyelesaikan tugasnya? Jika ya, berarti selama menjadi siswa di TK, anak didik tersebut satu kalipun sama sekali belum pernah mengerjakan tugasnya secara tuntas.
Tidakkah dia sesungguhnya pernah sekali atau dua kali mengerjakan tugas yang sangat sederhana sampai selesai, namun belum sesuai dengan harapan kita? Kedua, benarkah anak tersebut SELALU tertinggal dibandingkan teman-temannya? Apakah dia SELALU nomor terakhir untuk semua aktivitas yang diikutinya? Tidakkah dia pernah nomor dua, tiga, empat dari belakang atau bahkah lebih baik untuk aktivitas tertentu?
Pemakaian kata TIDAK PERNAH dan SELALU untuk aktivitas yang dilakukan siapapun, apalagi anak-anak, perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Pemakaian kata TIDAK PERNAH dan SELALU menggambarkan seolah-olah sang anak tidak pernah sedikitpun menunjukkan kemajuan ataupun perbaikan dari aktivitas yang dilakukannya. Seolah-olah tidak ada satupun yang bisa dibanggakan dari sang anak.
Jika ini terus menerus dilakukan, dampaknya sangat berbahaya. Bagi guru maupun bagi anak. Guru akan mudah sekali menderita stress karena tidak mampu secara objektif melihat kemajuan/perubahan, meskipun hanya sedikit, yang ditunjukkan sang anak. Sementara sang anak akan merasa tidak ada satu pun yang membanggakan dari dirinya. Tidak ada yang mengapresiasi atas sedikit kemajuan/perubahan yang ditunjukkannya. Ini membahayakan self esteem (harga diri) anak.
Pada tingkatan tertentu anak akan mengembangkan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Anak akan sampai pada keyakinan bahwa apapun yang dia lakukan tidak akan mengubah apa-apa. Sekeras apapun usaha yang dia tunjukkan, lingkungan akan selalu menganggap dirinya tidak mampu dan tidak layak.
Mungkin langkah terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah mencari tahu mengapa anak berperilaku demikian. Cara terbaik adalah mengajak anak yang bersangkutan berbicara dari hati-ke-hati. Dari pembicaraan tersebut akan muncul banyak sekali informasi, kadang-kadang di luar dugaan kita, mengapa dia merasa capek, bosan, atau ogah-ogahan mengikuti aktivitas kelas yang kita selenggarakan.
Mungkin saja secara objektif anak yang bersangkutan saat itu memang kondisi tubuhnya sedang tidak enak badan. Mungkin juga secara objektif anak memang merasa aktivitas yang diikutinya membosankan—monoton. Mungkin juga secara objektif anak menilai aktivitas-aktivitas yang harus dilakukannya terlalu banyak dan tidak tahu nilai/keterampilan apa yang akan mereka dapat dari seabrek aktivitas tersebut. Apalagi aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan tanpa ada unsur bermain. Dan masih banyak kemungkinan objektif lainya—tergantung keahlian kita dalam menggali informasi yang bermakna dari mulut anak.
Langkah selanjutnya adalah mencari berbagai pilihan penyelesaian yang relevan dengan akar permasalahannya. Berbagai pilihan penyelesaian tersebut kemudian kita coba untuk diketahui apakah efektif atau tidak dalam menyelesaikan permasalahan. Efektif tidaknya pilihan yang diterapkan tersebut akan memberi umpan balik yang sangat berharga bagi kita maupun anak-anak.
Di tahapan inilah kita perlu sekali untuk memberikan apresiasi terhadap setiap kemajuan/perubahan yang ditunjukkan oleh anak. Meskipun hanya satu tingkat, misal dari peringkat 30 (terbawah) naik menjadi 29. Di tahapan ini pula kita sebagai guru perlu mencari tahu lebih lanjut hal-hal apa saja yang mungkin berperan mengapa percepatan perubahan yang ditunjukkan sang anak belum sesuai dengan target yang kita tetapkan.
Alhamdulillaahirabbil'aalamiin . Prumpung, 30 Desember 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)